Jumat, 11 Oktober 2019

Kabut keegoisan

Aku berdiam diri sejenak...
Menunggu waktu bersejajar denganku.
Aku menegakkan tubuhku, memantapkan hatiku dan menetapkan tekadku.

Aku tidaklah seorang diri.
Banyak tangan di pundakku seraya tersenyum.
Peluhku sudah cukup membasahi, tekadku mengalahkan hak tubuhku yang meminta jeda.
Detik yang kuanggap begitu berharga, ternyata hancur oleh "Tuhan" yang palsu.
Ragaku saat itu mantap akan istirahat yang tenang dan indah, namun detik yang ku impikan tidak indah seperti asaku.

Aku bertanya-tanya, apakah aku begitu percaya diri akan citaku? Atau "Tuhan" yang palsu itulah yang membuat citaku tidak seindah rasa percaya diriku?

Ah, ternyata di malam itu ada kabut.
Ya, kabut keegoisan.
"Tuhan" yang palsu itu membuat kabut keegoisan tersebar luas di setiap sudut.
Membutakan setiap mata yang ingin melihat cahaya rembulan.

Kendati begitu, aku tahu malam akan berganti menjadi pagi. Sang fajar 'kan berganti dan mentari akan merobek 'kabut' itu. Segera....